Tampilkan postingan dengan label Kisah Personel. Tampilkan semua postingan
Menwa, Bukan Militer Mini di Kampus
By : Menwa Unbor![]() |
| Sumber Gambar : pbs.twimg.com |
Tujuan pembentukan menwa tentu mulia. Antara lain sebagai wadah penyaluran potensi mahasiswa untuk mewujudkan hak dan kewajiban warga negara dalam bela negara. Juga menyiapkan mahasiswa agar memiliki disiplin, pengetahuan, fisik dan mental yang prima.
Namun sebagian masyarakat, bahkan kalangan mahasiswa sendiri, kini punya pandangan miring dan negatif mengenai organisasi tersebut. Akibatnya, jumlah peminat tak sebanyak UKM lainnya.
Mereka menganggap menwa hanya berisi kegiatan-kegiatan fisik yang melelahkan, yang malah memengaruhi konsentrasi belajar mahasiswa. Mereka menganggap menwa adalah ''militer mini'' di kampus.
Padahal anggapan itu tidak benar. Menurut Komandan Menwa Satuan 901 Undip, Arga Kuspriandika, anggota menwa memang dituntut memiliki kesegaran jasmani yang baik, sehingga latihan fisik tetap harus dijalankan.
''Tetapi itu tidak menghilangkan peran mereka sebagai kaum intelektual muda yang punya tugas menuntut ilmu di kampus. Jadi menwa tidak hanya berkutat pada kegiatan fisik, tapi juga kegiatan yang dapat mengasah kemampuan intelektual mahasiswa,'' kata mahasiswa D3 Sastra Bahasa Jepang (angkatan 2003) ini.
Banyak Manfaat
Arga menambahkan, banyak manfaat yang dipetik anggota menwa. Misalnya, mempunyai kesempatan mengikuti pelatihan jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, dan keterampilan untuk survive.
Dia sependapat agar menwa tak terjebak dalam euforia kemiliteran, sehingga masyarakat dan mahasiswa sampai memiliki pandangan negatif tentang keberadaan organisasi ini. ''Ke depan kita ingin lebih eksis. Makin diterima masyarakat dan kalangan kampus sendiri. Namun, jati diri menwa jangan dipahami setengah-setengah,'' tegasnya.
Eko Andi Purnomo, wakil komandan Menwa Satuan 902 Unnes, menjelaskan awal mula pembentukan menwa di masa lalu. Yaitu menangkal paham komunis yang masuk melalui dunia kampus.
''Sekarang, sesuai perkembangan jaman, menwa dapat berperan sebagai stabilisator dan dinamisator bagi kehidupan internal kampus. Saat ini kita mendidik anggota agar memiliki kemampuan keprajuritan dan intelektualitas tinggi, yang bisa diaplikasikan ke masyarakat maupun di kampus sendiri,'' kata mahasiswa asal Blora ini.
Mahasiswa Jurusan Matematika angkatan 2003 ini menambahkan, Menwa Unnes memiliki banyak kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Misalnya Tim SAR, pengiriman relawan ke berbagi daerah bencana (Aceh, Klaten, Merapi), dan sebagainya.
Menwa Perempuan
Sebagaimana di Polri dan TNI, rekrutmen anggota menwa tak hanya dikuasai kaum lelaki saja. Tidak sedikit perempuan yang berkiprah, dan menunjukkan prestasinya.
Hal inilah yang mengilhami Dewi Yuliningsih -mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia Unnes- bergabung menjadi anggota menwa.
''Banyak pengalaman, wawasan, dan teman,'' kata anggota baru itu. Pengalaman paling berharga adalah saat pendidikan awal penerimaan calon.
Mahasiswi asal Pemalang tersebut mengaku sempat dilarang teman-teman kos saat akan ingin mendaftar jadi anggota menwa. ''Setelah saya masuk, banyak teman kos yang tanya apa saja kegiatan yang dilakukan. Eh, banyak di antara mereka yang kemudian tertarik''.
Menurut Dewi, mengikuti kegiatan menwa tidak akan menghilangkan sisi-sisi kewanitaan seseorang. Justru kepribadiannya akan ditempa, sehingga menjadi perempuan yang lebih kuat, tangguh, dan mandiri. (Dela Sulistiyawan Yunior-32)
Tag :
Kisah Personel,
Argumentasi
By : Menwa Unbor
Fitri Alfariz, Fakultas Filsafat UGM
Resimen mahasiswa merupakan organisasi yang kegiatannya berbau kemiliteran. Maka, tak sedikit orang menganggap Menwa itu antek militer. Di Menwa itu belajar kemiliteran, organisasi militer, dan hal-hal berbau militer lainnya.
Pandangan ini perlu diluruskan. Menwa terbentuk dari tentara pelajar sekitar tahun 1962. Pada zaman itu, negara kita benar-benar membutuhkan pasukan yang tak hanya hebat fisiknya, tetapi juga cerdas otaknya.
Waktu itu, Menwa dipercaya presiden. Bahkan, pembentukannya di bawah payung hukum Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri, yaitu Menteri Pendidikan, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan. Dengan adanya SKB itu, kehidupan Menwa sungguh sejahtera, segala kebutuhan yang diperlukan selalu terpenuhi.
Bagaimana dengan Menwa kini? Kalau Menwa zaman dulu lebih ditekankan pada kata resimen, Menwa sekarang lebih ditonjolkan pada kata mahasiswa.
Semenjak SKB tiga menteri itu dicabut tahun 2000, ada banyak pergolakan di tubuh Menwa. Bahkan, Reformasi 1998 pun menyuarakan agar Menwa dibubarkan.
Payung hukum Menwa sekarang adalah rektor perguruan tinggi masing-masing. Menwa tak lebih sekadar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yang posisinya sama dengan UKM lainnya.
Di Malaysia, sebutan Menwa namanya Palapis. Perbedaannya sungguh besar. Di Malaysia, mereka dibayar, diberi asrama, bahkan ketika lulus langsung menjadi perwira Angkatan Darat.
Di Indonesia, mengikuti Menwa merupakan panggilan hati. Tanpa dibayar, tanpa asrama bagus, tanpa iming-iming jabatan.
Mengapa Masuk Menwa?
Adrian Promediaz, Teknik Perminyakan ITB 2008, Resimen Mahasiswa Batalyon I/ITB
Menwa, pertama kali mendengar kata-kata itu, yang ada dalam benak saya adalah muda-mudi berseragam tentara yang suka latihan fisik layaknya TNI. Atau, sekelompok orang yang kurang disukai mahasiswa yang berpandangan Menwa adalah militer masuk kampus.
Pandangan itu memang benar, tetapi tak seluruhnya benar. Saya anggota Menwa batalyon 1/ITB, Kompi C. Menwa adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa di bidang pendidikan.
Mengapa di bidang pendidikan? Karena pendidikan yang saya ikuti di Menwa memberikan banyak hal untuk kehidupan sehari-hari.
Pertama, kedisiplinan. Memang benar Menwa tak jauh dari militer yang identik dengan sikap disiplin. Hadiah dan hukuman membuat saya terlatih disiplin. Para pelatih tak ”mencari-cari” kesalahan, tetapi menindak kesalahan dan memberi apresiasi setiap prestasi.
Kedua, kepemimpinan. Situasi lapangan mendidik saya berani mengambil keputusan dengan segala risiko, rela berkorban untuk sesama, taktis mencapai tujuan, dan ambisi yang kuat.
Salah satu Tri Dharma perguruan tinggi adalah pengabdian masyarakat. Salah satu contohnya, Batalyon 1/ITB mengirimkan personelnya untuk menolong korban gempa di Tasikmalaya 2009.
Bukan Tentara
Theresia Pare Mere, Institut Pertanian Stiper Yogyakarta, Resimen Mahasiswa Satuan 13 Institut Pertanian Stiper Yogyakarta
Menwa ada karena sejarah. Bersikap tegas merupakan ciri yang kemudian dinilai militeristik. Penampilan dari ujung kaki yang bersepatu mirip tentara, sampai ujung kepala menggunakan baret ungu, membuat orang berpikir apakah Menwa ini tentara?
Menwa bukan tentara, tetapi Resimen Mahasiswa, bukan terlatih tetapi berlatih, bukan sok sibuk tetapi semangat, bukan perintah tetapi tanggung jawab, bukan idealis tetapi dedikasi dan loyalitas.
Dalam Menwa, saya mempelajari bagaimana menghormati dan menghargai orang lain, jiwa korsa dan rasa kekeluargaan karena anggota Menwa di kampus saya bukan hanya berasal dari satu daerah, tetapi dari berbagai daerah.
Keberadaan Menwa di kampus modern mengundang banyak pertanyaan, siapa Menwa, apa fungsinya? Banyak teman-teman menilai Menwa adalah polisi kampus dan mengira tugasnya semata-mata menjaga keamanan kampus.
Dalam kesehariannya, kegiatan intern Menwa, contohnya berlatih mountenering, geladi posko, dan bimbingan pemantapan (bintap). Kami juga membantu kampus dalam pelaksanaan kegiatan kampus, seperti ospek.
Apakah hanya dengan menjadi mahasiswa, yang kesehariannya belajar teori atau setelah dari kampus pulang ke tempat kos lalu tidur, kita bisa berkembang? Teori memang penting untuk menjadi pedoman, tetapi itu menjadi tidak berguna saat kita tak pernah mengaplikasikannya di lapangan.
Dilihat Luarnya Saja
Muh Ahyani Rakib, Teknologi Pertanian/Fakultas Pertanian Unhas Makassar, Resimen Mahasiswa Indonesia, Rindam VII Wirabuana, Pakkatto, Gowa
Apakah Menwa masih militeristik? Resimen mahasiswa memang tak bisa dipisahkan dengan militer. Sebagai organisasi kemahasiswaan yang berbasis bela negara, untuk mendapatkan latihan bela negara atau olah keprajuritan, pastilah yang melatih militer.
Anggapan mahasiswa tentang Menwa terlalu terdikotomi oleh sejarah kelam militer di negara ini, sehingga Menwa ikut ditafsirkan sebagai perpanjangan militer.
Selama saya di Menwa, sedikit pun kami tak pernah dimanfaatkan golongan tertentu. Menwa dapat menjadi contoh pelebur dikotomi sipil-militer dalam masyarakat.
Singkatnya, ilmu resimen kami dapatkan dari militer, dan ilmu mahasiswa kami dapatkan dari kampus, untuk mewujudkan Tri Dharma perguruan tinggi untuk pengabdian kepada bangsa.
Apa dampak positif-negatifnya bagi kampus modern? Kampus Unhas bukan hanya kampus modern dan terbesar di Indonesia timur, tetapi juga kampus yang memiliki dinamika gerakan kemahasiswaan yang cukup keras dan kompleks.
Dalam tulisan dosen Unhas sekaligus pakar politik dan sosial, Dr Abdul Gaffar, yang melakukan survei kepada mahasiswa Unhas mengenai keberadaan Menwa, ternyata sekitar 70 persen mahasiswa Unhas sangat menginginkan Menwa tetap eksis, 20 persen berpendapat 50:50, dan 10 persen menolak.
Ketika ditanya tentang sikap disiplin, 70 persen mahasiswa menginginkan Menwa menjadi pioner dalam memberi contoh disiplin. Ini menandakan Menwa berdampak positif terhadap perkembangan kampus modern.
Tag :
Kisah Personel,
Semangatku Saya Diuji
By : Menwa Unbor![]() |
| Sumber Gambar : www.famindonesia.com |
Siang yang terik untuk keluar dari tempat kost, tapi demi sebuah jaket dan kacamata yang sangat berharga ku relakan kulitku bermandikan sinar mentari. Bukan hanya itu, kondisiku yang sedang tidak fit ku paksa agar aku bisa sampai ke Mako (markas komando) Menwa UGM yang ada di sebelah barat bunderan UGM. Demi kenyamanan aku meminjam sepeda hijau di Fakultas Psikologi. Celakanya, saya minta izin meminjam sepeda itu kepada salah satu Dosen UGM. Hahahahaha, sangat merendahkan sekali. Its Ok, next, sepeda sudah ku pinjam lalu….perjalanan pun dimulai. Sambil mendengarkan The Cavaliers 2007, So Its Goes, ku kayuh sepeda hijau ini menuju mako menwa.
Setelah sampai aku langsung menanyakan kondisi jaket dan kacamataku. Alhamdulilah ternyata ada, nah inilah yang membuat aku merasa kaget. Di markas ada pembicaraan antara seorang calon menwa (camen) bernama Ari dari fakultas MIPA ingin mengundurkan diri. Alasannya ingin pindah kampus atau banyak tugas kuliah, atau apalah. Hmmm berarti ini sudah dua kali aku mendengar pengunduran diri camen, setelah seorang camen cewek dari fakultas Filsafat semalem mengirimkan ku sms bahwa dia mengundurkan diri karena tidak mendapat izin dari orang tua nya.
Hmmmmm, teman dan teman. Itulah salah satu kenapa aku ikut organisasi. Dalam kehidupan sehari-hari aku memang agak individualis, sehingga aku jarang mempunyai teman yang begitu akrab terutama setelah aku kost di Yogya. Diwawancarapun sudah aku kemukakan bahwa alasan aku ikut menwa adalah menambah pegalaman dan teman. Kenapa aku ikut marching band, Gama Cendekia dan yang terakhir menwa? Ya betul semua adalah UKM, kenapa saya ikut UKM? Kenapa tidak ikut lembaga mahasiswa yang ada di Fakultas Psikologi? Saya ingin mendapatkan teman dari berbagai macam disiplin ilmu. Siapa tahu kami bisa berdiskusi dan itu sangat menarik. Oke sebenarnya saya setengah hati ikut menwa, saya malu memakai seragam menwa. Tapi saya yakin, saya akan mendapatkan ilmu yang lebih besar, teman yang lebih banyak, dan pengalaman yang tidak ternilai harganya jika saya ikut UKM ini. Meskipun beberapa teman sudah mengundurkan diri, saya yakin masih banyak teman-teman yang akan selalu menemani saya di menwa nanti. Semangat Iwan, hidup adalah sebuah pilihan. Kamu pasti bisa.
Sumber : http://tengakarta.wordpress.com/2008/12/01/semangatku-saya-diuji/
Tag :
Kisah Personel,





